Monday, June 6, 2022

Resah

 Hai, pernah ngga kalian ngerasa kalo hidup kalian itu kosong dan hampa?

Yap, perasaan itu yang akhir-akhir ini lagi ngehantuin aku. Hidup seakan-akan gak ada artinya. Apa mungkin ini yang dinamakan krisis quarter-life? Ya aku tau, it won’t last forever dan emang si umurku saat ini 25, tapi perasaan ini bener-bener ngerusak banget. I’m just a man with broken wings, sih. Terkadang muncul perasaan ga layak buat jadi orang yang achievable. Padahal orang lain sering ngandelin aku dan nganggep aku orang yang bisa segala hal, tapi aku sendiri malah benci sama diri sendiri. Aneh, kan?


Last but not least, emang mencintai diri sendiri itu susah banget, cuy! Anyone can share [something] to handle it


//Prihartono Agung, June 2022.


Thursday, March 24, 2022

Perihal Impian, Setiap Orang Berhak Menuliskan

Menulis perihal impian (secara transparan) bagi sebagian orang memang kurang etis, karena bukan support yang akan kita dapatkan melainkan sebuah cercaan. Namun, tidak ada salahnya bukan ketika kita menuliskannya sebagai bentuk motivasi dan pengingat untuk diri sendiri?


"Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya. Pepatah ini yang selalu terpatri dalam benakku. Aku ingin ketika aku tiada, aku tidak hanya meninggalkan nama, melainkan karya."


Intinya, keinginanku sebelum ragaku menginjak umur 30, aku sudah memiliki karya solo album untukku sendiri dan karya album untuk bandku. Ya, masing-masing album berisi 8 lagu saja cukup, kok. Untuk karya solo album ini konsepnya bakalan kayak The Alan Parsons Project, jadi hanya aku dengan satu partnerku. Akan tetapi, project ini sepenuhnya menjadi milikku. Solo albumku ini bakalan menggabungkan orkes melankolis 50'an dan elektronik 80'an, seperti The Everly Brothers digabung sama Duran Duran, lah. Hehehe! Untuk karya album bersama bandku, konsepnya ya cukup alt-rock/britpop 90'an kayak Blur digabungin Silverchair, gitu. Jika kedua impian itu sudah terealisasikan, aku ingin membuat single untuk penyanyi wanita. Rencananya sih mau cari yang suaranya mirip Chaka Khan, tapi kalo nggak ada ya it's okay, lah. Cukup satu single aja, kalo laku ya lanjut aku bikinin EP (Extended Play) buat dia. Ya, biar makin mirip sama David Foster. Hahaha! Yang terakhir, aku ingin menulis buku yang berisi tentang beratnya menjalani hidup di fase quarter life (my whole life, indeed). Tulisannya bakalan aku balut secara puitis, biar kesannya nggak sambat-sambat banget. Hehehe! Untuk formatnya nggak usah tebel-tebel, cukup sekitar 60-80 hlm saja. Ajiiiib, khaaaan??!!


Nantinya, aku ingin keturunanku selalu mengingatku dan/atau tau siapa aku dengan mendengar dan membaca karya-karyaku. Sekian.


//Prihartono, Agung. Mar 23, 2022.


Thursday, July 22, 2021

Berfikir Afirmatif dengan Metode Mengidolakan Sosok Yang Kita Kagumi

Halo, bloggerku! Wah, udah lama ya engkau ndak ku kunjungi, hehehe. Udah setahun lebih kayaknya, malahan sebelum pandemi covid-19 mencuat ke permukaan. Tapi tenang! Sebagai permintaan maafku, aku bakalan berkunjung sekaligus bercerita lagi dengan badanmu sebagai medianya. Okay, okay?

Kali ini aku bakalan cerita tentang berfikir afirmatif dengan metode mengidolakan sosok yang kita kagumi. Perlu kita ketahui, mengidolakan sosok seseorang yang kita anggep luar biasa, panutan, hero, bahkan legend tuh bisa memberikan impact yang besar di kehidupan kita, lho! Mau bukti? Wokay, boleh banget. Gas!

Ketika masih kuliah, aku tuh orangnya pemalu dan tidak berani tampil didepan umum, entah itu saat presentasi ataupun apa-lah. Namun, ketika aku menginjak semester 7, mau nggak mau 'kan harus ngerjain skripsi dan mempresentasikan hasil skripsi kita didepan dosen beserta mahasiswa lain. Nah, turnin' point pertamaku ialah saat skripsi. Jadi, skripsiku tuh bebarengan dengan Pemilu 2019. Loh, apa korelasinya? Jadi gini, saat Pemilu tuh banyak banget intelektual senior maupun junior yang debat abis-abisan buat ngedukung capres pilihannya. Saat itu, mata ku tertuju pada satu sosok yang hebat, dia adalah Budiman Sudjatmiko! Sosok yang begitu filosofis, cerdas, jago debat, dan mantan aktivis '98 ini benar-benar mengalihkan perspektifku terhadap politik. Begitu Budiman Sudjatmiko muncul di timeline Youtube, langsung ku tonton! Padahal, Budiman Sudjatmiko tuh berseberangan dengan capres yang ku pilih. Tapi, aku tidak melihat itu sebagai masalah, karena yang ku lihat adalah cara berfikirnya, bukan capres mana yang ia pilih. Saat nonton dia di acara-acara debat capres, pikiran dan hatiku selalu terpacu untuk menjadi sosok yang seperti dia. 

Long story short, sebelum seminar proposal, aku selalu afirmasi diri dengan kalimat, "Aku Budiman Sudjatmiko! Aku Budiman Sudjatmiko!". Tebak setelah itu apa yang terjadi?! Aku jadi pede dan jago ketika seminar proposalku berjalan. Lidahku yang semula sering kelu, jadi lancar. Mahasiswa lain yang menjadi audiens seketika kagum dengan public sepeaking ku. Hmm, keren 'kan? Mau butuh bukti lagi bahwa  berfikir afirmatif dengan metode mengidolakan sosok yang kita kagumi tuh working? Okay, siap! 

Sedari awal tahun 2019 sampai sekarang, aku ngefans banget tuh sama David Foster dan Dhani Ahmad. Begitu banyak faktor x yang membuat aku ngefans sama David Foster dan Dhani Ahmad, sehingga membuatku begitu mengidolakan sosok mereka berdua, especially diranah musik. Karya mereka berdua sungguh evergreen dan uwenak pol, padahal komposisinya rumit dan nggak bisa ditebak.

David Foster dan Dhani Ahmad ini membuat ku ingin mempelajari piano. Tahukah kalian, bahwa saat ini aku bisa main piano, ya walaupun nggak jago-jago banget, tapi lumayan lah, hehehe. Mana mungkin aku minat mempelajari piano kalo bukan karena mereka? Kalo saja aku nggak ketemu mereka berdua, mungkin aku ogah dah nyobain piano, paling-paling saat ini juga stuck di gitar, hahaha.

Intinya, pengalamanku tersebut dapat menyimpulkan bahwa afirmasi diri itu penting banget dan bikin kita break the limits. Tapi, dengan catatan bahwa sosok yang kita idolakan harus sosok yang positif dan sosok yang bisa membuat kita berkembang! Jangan malah mengidolakan sosok seperti infulencer media sosial sekarang yang senengnya ngomongin seks diluar nikah dan miras, soalnya hal itu jika terlihat secara terus-menerus dapat membentuk cara berpikir dan perilaku kita. Yuk! Mulai sekarang belajar berfikir afirmatif dengan metode mengidolakan sosok yang baik dan positif, sehingga kita bisa menjadi manusia yang memiliki kualitas. Akhirul kalam, jangan pernah menganggap remeh diri kita sendiri, ya! xx

All you need is love, love is all you need.

 

//Prihartono, Agung. Juli, 2021.

Monday, January 27, 2020

Mulai hari ini saya menyadari bahwa beberapa orang atau "mungkin" mayoritas orang lokal belum mampu menerima suatu perdebatan yang mengedepankan argumentasi. Hal itu sempat terjadi di pagi ini, dimana saya melakukan perdebatan yang sedikit berbau politik dengan seseorang. Awalnya kita hanya diskusi biasa tentang comparison (perbandandingan) suatu kata atau kalimat, namun lama-lama merambat ke diskusi yang sedikit berbau politik dan akhirnya kami melakukan pembelaan terhadap apa yang kami yakini. Ya, benar! Kami melakukan perdebatan! Seperti yang orang terdekat saya ketahui dan semoga ini bukan dari salah satu kesombongan, saya merupakan sesorang yang kerap memberikan analogi atau kutipan sesorang dalam kegiatan diskusi. 

(to be contined) tiba-tiba males dan ga mood buat nge-lanjutin ceritanya.

Wednesday, December 4, 2019

Pekerja Korporasi atau Seni?

Pada dasarnya, kita sebagai manusia ingin selalu hidup di zona nyaman dan zona pasti. Ilustrasinya seperti ini, kita berfikir akan lebih mapan jika menjadi pekerja di suatu korporasi (milik negara ataupun swasta) daripada menjadi pekerja seni. Mengapa? Karena menjadi pekerja di suatu korporasi dirasa sangatlah nyaman dan pasti; pasti gajiannya, pasti tenangnya, dan pasti hidupnnya. Tetapi coba kita mulai dengan psikologi yang terbalik, jika kita bekerja sebagai pekerja seni apakah kita selalu akan hidup di zona ketidaknyamanan dan ketidakpastian? Tentu saja tidak, ketahuilah bahwa pekerja seni sebenarnya memiliki nilai (value) yang lebih tinggi. Hal itu karena mereka berdiri di kaki mereka sendiri (tidak bertumpu pada atasan), memiliki kemauan untuk berkembang (dinamis), dan sangat dekat dengan kepuasan. Namun hingga saat ini, pekerja seni masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Menurut mereka, pekerjaan ini tidak lebih dari pekerjaan serabutan. 

Perlu diketahui bahwa pekerja seni memiliki peluang untuk menjadi sosok yang melegenda (re: seseorang yang akan terus diingat/dikenal/dikenang oleh masyarakat). Mengapa hal itu bisa terjadi? Ilustrasinya seperti ini, pada tahun 60an kita tahu bahwa terdapat suatu band dari Inggris yang sangat populer. Ya! Benar! Band itu bernama The Beatles! Jika tidak paham detailnya, ya minimal tahu lagunya yang berjudul; Hey Jude-lah, atau tahu salah satu personilnya yang kontroversial; John Lennon! Akan tetapi, apa kita tahu siapa Perdana Menteri Inggris saat itu? Saya rasa kita semua tahu jika kita sudah membuka Google.

Kesimpulannya seperti ini, kita manusia (yang beragama) sepakat bahwa bekerja apa saja yang penting pekerjaan tersebut halal merupakan dasar yang harus dipatuhi dalam proses mencari uang. Tetapi, kita sebagai manusia yang merdeka juga memiliki hak untuk memerdekakan tenaga, waktu, mental, dan pikiran kita. Last but not least, saya pernah membaca suatu kutipan yang memukau dan membuka mata saya, kurang lebih isinya seperti ini, 'If it doesn't challenge you, it doesn't change you". Kutipan tersebut saya maknai kira-kira begini, ''Jika kita ingin berubah atau berkembang, kita harus mencari rintangan dan melewatinya, setelah kita sudah mencari rintangan dan melewatinya, hasil itu akan bermuara menjadi sebuah kepuasan."

Sekian dan Terimakasih.

//Prihartono, Agung. Dec 04, 2019.

Tuesday, October 15, 2019

Bisai

Dituntun olehmu, kegelisahanku pudar.
Oh, betapa kedamaian menyertai jiwaku.
Kau begitu dekat denganku,
Sempat aku mengira kau adalah aku.
Aku bagian darimu, kau bagian dariku.
Aku milkmu, kau milikku.
Kau telah bersemayam didalam kalbuku.
Disetiap hembus nafasku,
Tersirat makna yang agung.
"Akan 'kah ini hembusan nafas terakhirku? 
Sehingga aku dapat bertemu denganmu?"

//Prihartono Agung. Oct 2019.

Friday, May 31, 2019

Kaku

Kau datang membasuh luka lama.
Tahu 'kah engkau ratusan bintang yang berkilau bersua.

Curiga kisah lama yang tumbuh.
Tahu 'kah engkau bintang yang berkilau telah hilang sinarnya.

Ku terpaku dalam ambisimu.
Ku termangu dalam khayal semu.
Ku terbujur kaku dalam rindu.
Ku tersipu kala menatapmu.

Terngiang halus tutur kata mu.
Tahu 'kah engkau bila kau telah tenggelam dalam kalbu.

//Prihartono Agung. May 31, 2019.

Resah

  Hai, pernah ngga kalian ngerasa kalo hidup kalian itu kosong dan hampa? Yap, perasaan itu yang akhir-akhir ini lagi ngehantuin aku. Hidup ...