Menulis perihal impian (secara transparan) bagi sebagian orang memang kurang etis, karena bukan support yang akan kita dapatkan melainkan sebuah cercaan. Namun, tidak ada salahnya bukan ketika kita menuliskannya sebagai bentuk motivasi dan pengingat untuk diri sendiri?
"Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya. Pepatah ini yang selalu terpatri dalam benakku. Aku ingin ketika aku tiada, aku tidak hanya meninggalkan nama, melainkan karya."
Intinya, keinginanku sebelum ragaku menginjak umur 30, aku sudah memiliki karya solo album untukku sendiri dan karya album untuk bandku. Ya, masing-masing album berisi 8 lagu saja cukup, kok. Untuk karya solo album ini konsepnya bakalan kayak The Alan Parsons Project, jadi hanya aku dengan satu partnerku. Akan tetapi, project ini sepenuhnya menjadi milikku. Solo albumku ini bakalan menggabungkan orkes melankolis 50'an dan elektronik 80'an, seperti The Everly Brothers digabung sama Duran Duran, lah. Hehehe! Untuk karya album bersama bandku, konsepnya ya cukup alt-rock/britpop 90'an kayak Blur digabungin Silverchair, gitu. Jika kedua impian itu sudah terealisasikan, aku ingin membuat single untuk penyanyi wanita. Rencananya sih mau cari yang suaranya mirip Chaka Khan, tapi kalo nggak ada ya it's okay, lah. Cukup satu single aja, kalo laku ya lanjut aku bikinin EP (Extended Play) buat dia. Ya, biar makin mirip sama David Foster. Hahaha! Yang terakhir, aku ingin menulis buku yang berisi tentang beratnya menjalani hidup di fase quarter life (my whole life, indeed). Tulisannya bakalan aku balut secara puitis, biar kesannya nggak sambat-sambat banget. Hehehe! Untuk formatnya nggak usah tebel-tebel, cukup sekitar 60-80 hlm saja. Ajiiiib, khaaaan??!!
Nantinya, aku ingin keturunanku selalu mengingatku dan/atau tau siapa aku dengan mendengar dan membaca karya-karyaku. Sekian.
//Prihartono, Agung. Mar 23, 2022.