Amarah menguasai analisis terhenti.
Tak diberi stimulus oleh otak kiri.
Kelimpungan mencari pembelaan.
Mendakwa oposisi seorang tiran.
Bicara mengenai hak digarda terdepan.
Konsep kosong dalih kemanusiaan.
Kalimat retoris dilontarkan ratusan kali.
Namun, tak ada satupun yang memiliki substansi.
//Prihartono Agung. Jan 26, 2019.
Saturday, January 26, 2019
Monday, January 21, 2019
Belum Dapat Judul
Ingin cepat usai namun tak mendampingi.
Aku terima saja kau hakimi.
Pengatur memang selalu mengatur.
Bisakah sedikit lebih tenang?
Kau tak layak disebut patriot.
Syair afirmatif memihak lencanamu.
Tapi tidak mencerminkan pribadimu.
Karena kau tak layak dapatkan itu.
Intelektualitasmu ku pertanyakan.
Tapi kenapa kau bisa bersahaja?
Aku ingin tertawa sembari berkata.
Mungkin kau butuh bercinta.
//Prihartono Agung. Jan 21, 2019.
Aku terima saja kau hakimi.
Pengatur memang selalu mengatur.
Bisakah sedikit lebih tenang?
Kau tak layak disebut patriot.
Syair afirmatif memihak lencanamu.
Tapi tidak mencerminkan pribadimu.
Karena kau tak layak dapatkan itu.
Intelektualitasmu ku pertanyakan.
Tapi kenapa kau bisa bersahaja?
Aku ingin tertawa sembari berkata.
Mungkin kau butuh bercinta.
//Prihartono Agung. Jan 21, 2019.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Penentuan, Penentuan, Penentuan!
Hari ini, tanggal 25 Maret 2026, akhirnya aku mulai menulis lagi di blog ini. Entah udah berapa tahun aku ga menulis bahkan mengunjungi blo...
-
Kisah cinta dimasa muda itu biasa. Terbang tinggi lalu terhempas. Hati terkoyak bagai diayak. Tak seorang pun mengerti. Manifestasi dar...
-
Enyahlah kau gatal! Jangan larut dalam mencumbuiku Tubuh jantanku Nyamuk mana tak parasit? Kini aku berjelaga Awas saja! Kan ku ...
-
Amarah menguasai analisis terhenti. Tak diberi stimulus oleh otak kiri. Kelimpungan mencari pembelaan. Mendakwa oposisi seorang tiran. ...