Halo, bloggerku! Wah, udah lama ya engkau ndak ku kunjungi, hehehe. Udah setahun lebih kayaknya, malahan sebelum pandemi covid-19 mencuat ke permukaan. Tapi tenang! Sebagai permintaan maafku, aku bakalan berkunjung sekaligus bercerita lagi dengan badanmu sebagai medianya. Okay, okay?
Kali ini aku bakalan cerita tentang berfikir afirmatif dengan metode mengidolakan sosok yang kita kagumi. Perlu kita ketahui, mengidolakan sosok seseorang yang kita anggep luar biasa, panutan, hero, bahkan legend tuh bisa memberikan impact yang besar di kehidupan kita, lho! Mau bukti? Wokay, boleh banget. Gas!
Ketika masih kuliah, aku tuh orangnya pemalu dan tidak berani tampil didepan umum, entah itu saat presentasi ataupun apa-lah. Namun, ketika aku menginjak semester 7, mau nggak mau 'kan harus ngerjain skripsi dan mempresentasikan hasil skripsi kita didepan dosen beserta mahasiswa lain. Nah, turnin' point pertamaku ialah saat skripsi. Jadi, skripsiku tuh bebarengan dengan Pemilu 2019. Loh, apa korelasinya? Jadi gini, saat Pemilu tuh banyak banget intelektual senior maupun junior yang debat abis-abisan buat ngedukung capres pilihannya. Saat itu, mata ku tertuju pada satu sosok yang hebat, dia adalah Budiman Sudjatmiko! Sosok yang begitu filosofis, cerdas, jago debat, dan mantan aktivis '98 ini benar-benar mengalihkan perspektifku terhadap politik. Begitu Budiman Sudjatmiko muncul di timeline Youtube, langsung ku tonton! Padahal, Budiman Sudjatmiko tuh berseberangan dengan capres yang ku pilih. Tapi, aku tidak melihat itu sebagai masalah, karena yang ku lihat adalah cara berfikirnya, bukan capres mana yang ia pilih. Saat nonton dia di acara-acara debat capres, pikiran dan hatiku selalu terpacu untuk menjadi sosok yang seperti dia.
Long story short, sebelum seminar proposal, aku selalu afirmasi diri dengan kalimat, "Aku Budiman Sudjatmiko! Aku Budiman Sudjatmiko!". Tebak setelah itu apa yang terjadi?! Aku jadi pede dan jago ketika seminar proposalku berjalan. Lidahku yang semula sering kelu, jadi lancar. Mahasiswa lain yang menjadi audiens seketika kagum dengan public sepeaking ku. Hmm, keren 'kan? Mau butuh bukti lagi bahwa berfikir afirmatif dengan metode mengidolakan sosok yang kita kagumi tuh working? Okay, siap!
Sedari awal tahun 2019 sampai sekarang, aku ngefans banget tuh sama David Foster dan Dhani Ahmad. Begitu banyak faktor x yang membuat aku ngefans sama David Foster dan Dhani Ahmad, sehingga membuatku begitu mengidolakan sosok mereka berdua, especially diranah musik. Karya mereka berdua sungguh evergreen dan uwenak pol, padahal komposisinya rumit dan nggak bisa ditebak.
David Foster dan Dhani Ahmad ini membuat ku ingin mempelajari piano. Tahukah kalian, bahwa saat ini aku bisa main piano, ya walaupun nggak jago-jago banget, tapi lumayan lah, hehehe. Mana mungkin aku minat mempelajari piano kalo bukan karena mereka? Kalo saja aku nggak ketemu mereka berdua, mungkin aku ogah dah nyobain piano, paling-paling saat ini juga stuck di gitar, hahaha.
Intinya, pengalamanku tersebut dapat menyimpulkan bahwa afirmasi diri itu penting banget dan bikin kita break the limits. Tapi, dengan catatan bahwa sosok yang kita idolakan harus sosok yang positif dan sosok yang bisa membuat kita berkembang! Jangan malah mengidolakan sosok seperti infulencer media sosial sekarang yang senengnya ngomongin seks diluar nikah dan miras, soalnya hal itu jika terlihat secara terus-menerus dapat membentuk cara berpikir dan perilaku kita. Yuk! Mulai sekarang belajar berfikir afirmatif dengan metode mengidolakan sosok yang baik dan positif, sehingga kita bisa menjadi manusia yang memiliki kualitas. Akhirul kalam, jangan pernah menganggap remeh diri kita sendiri, ya! xx
All you need is love, love is all you need.
//Prihartono, Agung. Juli, 2021.