Wednesday, December 4, 2019

Pekerja Korporasi atau Seni?

Pada dasarnya, kita sebagai manusia ingin selalu hidup di zona nyaman dan zona pasti. Ilustrasinya seperti ini, kita berfikir akan lebih mapan jika menjadi pekerja di suatu korporasi (milik negara ataupun swasta) daripada menjadi pekerja seni. Mengapa? Karena menjadi pekerja di suatu korporasi dirasa sangatlah nyaman dan pasti; pasti gajiannya, pasti tenangnya, dan pasti hidupnnya. Tetapi coba kita mulai dengan psikologi yang terbalik, jika kita bekerja sebagai pekerja seni apakah kita selalu akan hidup di zona ketidaknyamanan dan ketidakpastian? Tentu saja tidak, ketahuilah bahwa pekerja seni sebenarnya memiliki nilai (value) yang lebih tinggi. Hal itu karena mereka berdiri di kaki mereka sendiri (tidak bertumpu pada atasan), memiliki kemauan untuk berkembang (dinamis), dan sangat dekat dengan kepuasan. Namun hingga saat ini, pekerja seni masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Menurut mereka, pekerjaan ini tidak lebih dari pekerjaan serabutan. 

Perlu diketahui bahwa pekerja seni memiliki peluang untuk menjadi sosok yang melegenda (re: seseorang yang akan terus diingat/dikenal/dikenang oleh masyarakat). Mengapa hal itu bisa terjadi? Ilustrasinya seperti ini, pada tahun 60an kita tahu bahwa terdapat suatu band dari Inggris yang sangat populer. Ya! Benar! Band itu bernama The Beatles! Jika tidak paham detailnya, ya minimal tahu lagunya yang berjudul; Hey Jude-lah, atau tahu salah satu personilnya yang kontroversial; John Lennon! Akan tetapi, apa kita tahu siapa Perdana Menteri Inggris saat itu? Saya rasa kita semua tahu jika kita sudah membuka Google.

Kesimpulannya seperti ini, kita manusia (yang beragama) sepakat bahwa bekerja apa saja yang penting pekerjaan tersebut halal merupakan dasar yang harus dipatuhi dalam proses mencari uang. Tetapi, kita sebagai manusia yang merdeka juga memiliki hak untuk memerdekakan tenaga, waktu, mental, dan pikiran kita. Last but not least, saya pernah membaca suatu kutipan yang memukau dan membuka mata saya, kurang lebih isinya seperti ini, 'If it doesn't challenge you, it doesn't change you". Kutipan tersebut saya maknai kira-kira begini, ''Jika kita ingin berubah atau berkembang, kita harus mencari rintangan dan melewatinya, setelah kita sudah mencari rintangan dan melewatinya, hasil itu akan bermuara menjadi sebuah kepuasan."

Sekian dan Terimakasih.

//Prihartono, Agung. Dec 04, 2019.

Tuesday, October 15, 2019

Bisai

Dituntun olehmu, kegelisahanku pudar.
Oh, betapa kedamaian menyertai jiwaku.
Kau begitu dekat denganku,
Sempat aku mengira kau adalah aku.
Aku bagian darimu, kau bagian dariku.
Aku milkmu, kau milikku.
Kau telah bersemayam didalam kalbuku.
Disetiap hembus nafasku,
Tersirat makna yang agung.
"Akan 'kah ini hembusan nafas terakhirku? 
Sehingga aku dapat bertemu denganmu?"

//Prihartono Agung. Oct 2019.

Friday, May 31, 2019

Kaku

Kau datang membasuh luka lama.
Tahu 'kah engkau ratusan bintang yang berkilau bersua.

Curiga kisah lama yang tumbuh.
Tahu 'kah engkau bintang yang berkilau telah hilang sinarnya.

Ku terpaku dalam ambisimu.
Ku termangu dalam khayal semu.
Ku terbujur kaku dalam rindu.
Ku tersipu kala menatapmu.

Terngiang halus tutur kata mu.
Tahu 'kah engkau bila kau telah tenggelam dalam kalbu.

//Prihartono Agung. May 31, 2019.

Saturday, January 26, 2019

Dakwa

Amarah menguasai analisis terhenti.
Tak diberi stimulus oleh otak kiri.
Kelimpungan mencari pembelaan.
Mendakwa oposisi seorang tiran.

Bicara mengenai hak digarda terdepan.
Konsep kosong dalih kemanusiaan.
Kalimat retoris dilontarkan ratusan kali.
Namun, tak ada satupun yang memiliki substansi.

//Prihartono Agung. Jan 26, 2019.

Monday, January 21, 2019

Belum Dapat Judul

Ingin cepat usai namun tak mendampingi.
Aku terima saja kau hakimi.
Pengatur memang selalu mengatur.
Bisakah sedikit lebih tenang?

Kau tak layak disebut patriot.
Syair afirmatif memihak lencanamu.
Tapi tidak mencerminkan pribadimu.
Karena kau tak layak dapatkan itu.

Intelektualitasmu ku pertanyakan.
Tapi kenapa kau bisa bersahaja?
Aku ingin tertawa sembari berkata.
Mungkin kau butuh bercinta.

//Prihartono Agung. Jan 21, 2019.